Connect with us

Kota Malang

Rektor Unidha Apresiasi Penghargaan Mahasiswa dan Dosen Prestasi

Diterbitkan

||

Rektor Unidha Prof Dr Sukowiyono SH, MHum, berikan cinderamata kepada Ketua Deputi Advokasi UKP PIP Prof Dr Hariyono MPd (tengah). (rhd)

*Mahasiswa Pelopor Pendidikan Pancasila

Memontum Kota Malang Usai reformasi, erupsi mental berbuah konflik horisontal banyak terjadi di kalangan masyarakat. Tak jarang melibatkan politik SARA melalui informasi HOAX yang bertebaran di medsos, berdalil agama, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, merah putih, dan ornamen kebangsaan lainnya. Tentunya hal itu harus diluruskan melalui pihak berkompeten di bidangnya.

Menyadari hal itu, Ketua Deputi Advokasi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) Prof Dr Hariyono MPd, memberikan materi kuliah umum bertemakan ‘Pancasila dan Karakter Bangsa’, kepada mahasiswa Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang, Senin (27/11/2017). Alasan dipilihnya Unidha, mengingat mahasiswanya multikultural berasal dari berbagai daerah, suku, dan agama. Sekaligus ajang silahturahminya dengan Rektor Unidha Prof Dr Sukowiyono SH, MHum, sebagai sahabat lama ketika mengabdi di Universitas Negeri Malang (UM).

“Kita perlu mengembalikan pandangan hidup Pancasila. Kita harus percaya diri tanpa pembatasan, baik SARA atau apapun itu. Lihat Australia sebagai negara buangan Inggris, tapi mereka percaya dirinya melebihi anggapan itu, dan akhirnya maju. Pancasila bukan ideologi quo, namun sebagai harmonisasi baik muda atau tua. Inilah karakter yang bisa dijadikan kebanggaan, sehingga memiliki komitmen dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara melalui Pancasila. Sebab Pancasila tidak asing, namun bisa menyaring peradaban luar (local genius) sejak dulu,” papar mantan Wakil Rektor 1 UM ini.

Menurutnya, Indonesia sebagai tempat silang budaya, dengan kelompok kecil kreatif sebagai pelopornya. Dan mahasiswa menjadi bagian pelopor tersebut. “Marilah kita ubah mindset negatif jadi positif dari isu hoax yang beredar. Jangan malah koruptor lebih terkenal daripada inovator. Mulai dari hal terkecil dengan saling menghargai. Misal mengapresiasi prestasi mahasiswa dan dosen teladan, dengan menampilkan wajah mereka di lingkungan kampus. Ajak mahasiswa mendatangi kegiatan positif masyarakat dalam lingkungannya, khususnya keberagaman agama,” papar Hariyono.

Menanggapi hal itu, Rektor Unidha Prof Dr Sukowiyono SH, MHum, menyambut baik usulan tersebut sebagai aplikatif bentuk penghargaan kepada orang lain yang pantas dijadikan contoh dan motivasi. “Selain itu, hasil penjaminan mutu akan kelihatan, sekaligus motivasi bagi yang lain. Sikap kurang menghargai merupakan sebuah kultur yang harus ditinggalkan. Sebab diakui atau tidak, konflik setelah reformasi semakin banyak. Benar atau salah, berprestasi atau tidak, sering dianggap salah. Untuk itu Pendidikan Pancasila harus kembali diterapkan,” jelas Suko, sapaan akrabnya.

Dengan Pendidikan Pancasila diharapkan dapat meredam berbagai konflik, baik internal maupun eksternal. Sebagai dasar menumbuhkan jiwa nasionalisme yang berkaitan dengan Pancasila. “Dari buka sampai tutup kantor, hanya Wisnuwardhana yang memutar lagu-lagu nasional dan daerah dengan diperdengarkan setiap hari. Hal ini sebagai bentuk aplikasi nasionalisme. Bahkan dosen MKU harus mengawali lagu Kebangsaan sebelum perkuliahan,” tukas Rektor Unidha. (rhd/yan)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler