Connect with us

Pendidikan

Unusa Kukuhkan 1700 Mahasiswa Baru, Wagub Jatim: Harus Jadi Mahasiswa yang Kritis

Diterbitkan

||

Unusa Kukuhkan 1700 Mahasiswa Baru, Wagub Jatim Harus Jadi Mahasiswa yang Kritis

Memontum Surabaya – Universitas Nadhatul Ulama Surabaya (Unusa) Kukuhkan 1700 mahasiswa baru di Dyandra Convention Center, Senin (16/9/2019).Pengukuhan tersebut mendatangkan Mohammad Nuh mantan menteri pendidikan serta wakil gubernur Jawa Timur Emil Dardak.

Dalam sambutannya Mohammad Nuh berpesan kepada dosen Unusa agar dalam menyampaikan pembelajaran perlu adanya sistem yag berbeda. Karena Mahasiswa yang dikukuhkan adalah mahaiswa generasi milenial yang memiliki karakter tersendiri.

“Mereka ini kelompok generasi digital punya karakteristik sendiri. Tantangan berbeda. Para dosen pembelanjaran yang ada di unusa juga di sesuaikan. Denga kebutuhan dan karakteristik anak-anak generasi digital,” ujar Mohammad Nuh yang sekarang menjabat Ketua Dewan Pers.

Tak hanya itu, Nuh juga memberikan point-point kepada mahasiswa agar jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan cara menciptakan inovasi. Tercapainya inovasi tentu didukung berbagai aspek. Yang pertama mahasiswa harus punya pemikiran yang kritis. Diharapkan bahwasanya anak muda mampu melihat celah, peluang yang ada disekitar kita.

“Paling mendasar adalah dengan mengajarkan anak-anak berfikir kritis .karena dengan berfikir kristis itulah bisa melihat celah mana yang bisa diperbaiki,” jelasnya.

Hal senada juga dituturkan oleh Emil Dardak. Jadi mahasiswa harus punya pikiran yang kritis. Melihat sesuatu dengan 2 sudut pandang. “ Mahasiswa ini sebagai insan yang kritis segala sesuatu melihat dari 2 sisi. Menggunakan pemikiran sendiri. Dan kemudian menyimpulakn segala sesuatu,” Jelasnya.

Contoh paling sederhana ketiak mahasiswa melihat Link berita kemudian hanya melihat foto beserta caption dan judul.Lalu bisa menyimpulkan itu bukan mahasiswa. Karena seyogyanya segala sesuatu harus bisa mentesis suatu pemikiran.

Tak hanya itu emil juga berpesan bahwa mahasiswa harus punya kreatifitas sehingga bisa membuat inovasi yang nantinya berdampak besar bagi lingkungan. Selain itu ia juga menyampaikan dalam mengambil langakh perubahan tidak harus menduduki jabatan yang tinggi.

“Perubahan tidak linier dengan jabatan Jabatan bukan penentu perubahan. Selain itu harus punya kreatifitas yang nantinya dapat mengambil inisiatif hingga sesuatu dampak besar bisa terjadi,” pungkasnya. ( Ace/yan)

 

Terpopuler