Connect with us

Pendidikan

Asian Contest Of The Architectural Rookie Award kembali Digelar

Diterbitkan

||

Asian Contest Of The Architectural Rookie Award kembali Digelar

Memontum Surabaya – Rookie Award kembali digelar, tahun ini sudah memasuki yang ke – 8. Rookie Award ini merupakan kompetisi karya khusus mahasiswa arsitektur tingkat satu hingga tiga dari berbagai negara yang ada di Asian.

Universitas Kristen Petra Surabaya dipilih menjadi tuan rumah seleksi nasional untuk mewakili Indonesia bersaing di Jepang.

“Dulu di Organaizer dari UI, mulai dari 1-7, lalu kita mengajukan ke akara lbagaiamana kalau kita yang jadi tuan rumah di Rookie Award yang ke -8,” Tutur Sylviana Putri selaku ketua pelaksana

Tema yang diusung kali ini adalah tentang Man dan Nature. Dipilih karena ingin mengetahui pandangan dan tata cara dalam memaknai konsep hubungan antara manusia dengan alam didalam karya arsitektur.

Total peserta dalam seleksi nasional ini diikuti oleh 20 karya terbaik, yang sebelumnya ada 60 karya yang mengikuti kompetisi ini. Peserta diikuti dari beberapa universitas di Indonesia, antara lain Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Universitas Katolik Parahyangan Bandung serta Universitas Kristen Petra sendiri.

“Dalam sekarang 20 karya, sebelumnya ada 60 karya yang sudah kami seleksi secara internal. Nanti dari seleksi ini akan diambil 3 besar dan satu favorit. Nanti yang akan berangkat mewakili indonesia hanya 1 orang,” jelas sylviana.

Kriteria yang ditentukan untuk lolos mewakili indonesia adalah bagaimana karya itu dapat menunjukan kesinambungan antara arsitektur, human dan nature. Dalam hal ini nature harus mempertimbangkan titik lokasi. Bukan berarti disebuah pedesaan atau di hutan. Dalam mendirikan sebuah bangunan harus melihat kondisi alam disekitar. Dalam seleksi ini peserta diberi waktu 7 menit untuk presentasi.

Kalau dari Universitas Petra mengeluarakan rancangan tentang arsitektur simbolik. Arsitektur dengan mempunyai makna. Salah satu mahasiswa kami membuat arsitektur masjid.

Dalam seleksi ini menghadirkan 3 juri, diantaranya Youngil Lee President Of Asia United Architecture Association, Ketut Artahana-Arte Arcitect Associates dan Rudy Kelana Wahana Architects.

Salah satu peserta dari Universitas Katolik Parahayangan mengusung tema taman budaya Jawa Barat yang karyanya diberi nama Hyang Giri. Taman budaya yang dimaksud adalah Dagu Tea house bekas bangunan yang sebelumnya digunakan untuk meminum tea.

Karena desain dan fungsinya tidak tidak sesuai, maka Gevin Timotous disarankan untuk mengubah konsep ulang taman budaya. “Bandung daerah danau purba kala dikelilingi oleh daratan tinggi.untk membuat ringkasan alam bandung dalam skala mikro,” jelas Gevin yang berumur 20 tahun ini.

Dalam arsitektur budaya Jawa barat ini tidak memiliki desain khusus. Sehingga dibuat dengan pendekatan Neo Vernakular pendekatan dengan konstruksi penggunanaan material lokal tetapi strukturnya modern. Neo Vernakular sendiri mennggunakan material awi, bambu, dll. Proses membuat desainnya kuranh lebih dimuali dari bulan Januari – Mei. (Ard/Ace/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler