Connect with us

Kota Malang

Kopi Unggulan UB Forest, Ditegakkan di Bawah Pohon Pinus

Diterbitkan

||

Produk kemasan kopi unggulan UB Forest jenis Arabica dan Robusta. (rhd)

Memontum Kota Malang – UB Forest mulai menggeliat dan mengembangkan hasil produksinya ke masyarakat umum. Salah satunya komoditas kopi dari salah satu unit bisnisnya. Bahkan Green Bean (biji kopi mentah) menjadi produk komoditas kopi unggulan UB Forest yang paling diminati oleh kalangan coffee shop.

Alasan coffee shop lebih memilih Green Bean, selain tahan lama untuk stok satu tahun kedepan, biji kopi bisa diproses atau dicampur sesuai cita rasa khas kafe. Selain itu, ciri khas biji kopi UB Forest sangat berbeda dibandingkan yang lain. Pasalnya, tanaman kopi UB Forest berada di bawah tegakkan pohon pinus di lereng Gunung Arjuno.

Proses sortir dan penjemuran di Lab Terpadu UB Forest. (rhd)

Proses sortir dan penjemuran di Lab Terpadu UB Forest. (rhd)

“Green Bean memiliki pangsa pasar industri kecil atau umkm. Beberapa coffee shop yang ada di Malang, mengambil dari UB Forest. Karena cita rasa khasnya berbeda dibandingkan dengan tanaman kopi di ruang terbuka tanpa pohon. Rata-rata bisa ambil sekitar satu kuintal hingga satu ton per bulan,” seru Diega Ramadhan, staf Pemasaran UB Forest

Faktor pemetikan pada cherry kopi matang berwarna merah dan seleksi kopi berkualitas sangat berpengaruh pada cita rasa kopi. Dari biji kopi mentah hingga produk jadi, terjadi penyusutan sekitar 70 persen. Sehingga pemilihan biji kopi berkualitas harus diperhatikan agar penyusutan tidak lebih besar.

Biji kopi pilihan UB Forest. (rhd)

Biji kopi pilihan UB Forest. (rhd)

“Tidak boleh ditarik. Jika prosesnya bagus, maka standar kualitas kopi juga bagus dan harganya cukup tinggi. Untuk harga jual green Bean sekitar Rp 45 – 85 ribu per kilogram. Untuk produk kemasan premium 250 gram, jenis Arabica Rp 60 ribu dan Robusta Rp 50 ribu,” beber Diega, mendampingi Manajer Produksi, Pengolahan dan Pemasaran UB Forest, Medha Baskara.

Dalam pengolahannya, UB Forest menggunakan 4 pola pengolahan kopi. Di antaranya natural process, semi wash process, full wash process dan honey process. “Pengolahan efektif menggunakan sinar matahari. Karena posisi UB Forest di ketinggian 1200-1800 mdpl, maka kami memilih lokasi Lab Terpadu di Kepuharjo, Karangploso ini dengan sinar matahari cukup terik khususnya untuk penjemuran. Termasuk sortir, pulping, hulling, fermentasi, grading, roasting, grinding hingga packing,” jelas Medha.

Prof Dr Eko Ganis Sukoharsono, menunjukkan tanaman kopi berkualitas diantara pohon pinus. (rhd)

Prof Dr Eko Ganis Sukoharsono, menunjukkan tanaman kopi berkualitas diantara pohon pinus. (rhd)

Sebelumnya, hasil tanaman produksi UB Forest hanya untuk kalangan internal sebagai bahan riset penelitian dan pendidikan oleh beberapa fakultas di UB. Seiring beberapa temuan dan olahan produk, UB Forest mulai mengenalkan produk kopinya ke khalayak umum. Contoh produk olahan kopi lainnya, seperti beauty care, lulur, parfum, permen, teh kulit kopi, minuman kemasan kotak, pupuk, dan lainnya.

“Selain fokus pada produksi kopi, UB Forest juga akan mengembangkan program ekowisata. Seperti tour ke kebun kopi, jadi bisa melihat proses bagaimana menanam pohon kopi, pengolahan kopi dan produksi kopi,” seru Medha.

Diega Ramadhan dan Medha Baskara. (rhd)

Diega Ramadhan dan Medha Baskara. (rhd)

Rombongan tour ke kebun kopi UB Forest. (rhd)

Rombongan tour ke kebun kopi UB Forest. (rhd)

Sementara itu, Direktur UB Forest, Prof Dr Eko Ganis Sukoharsono, mengatakan kebun kopi UB Forest tersebar di hutan pendidikan dan pelatihan seluas 544,74 hektar yang berada di Dusun Sumbersari, Desa Tawang Argo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Terbagi 5 koridor dengan 16 petak, termasuk blok perhutani 81-102.

“Kelebihan hasil kopi UB Forest, karena terletak ditegakkan bawah pohon Pinus. Dimana dalam 1 petak digarap hampir 50 petani. Tanaman kopi tersebar diantara beragam pepohonan di seluruh lokasi. Tak hanya kopi, namun juga beragam jenis tanaman pertanian, seperti jahe, sayuran, dan lainnya. Sementara petak 8, nantinya untuk area wisata. Dan sedang dibangun Canopy Walk dari CSR PT Japfa Comfeed, sehingga nantinya kita bisa berjalan di atas pohon Pinus,” papar Eko Ganis. (adn/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler