Connect with us

Kota Malang

UMM Jaring Mahasiswa Asing Terbanyak, Optimalkan BIPA dan KNB

Diterbitkan

||

Dosen, buddy dan mahasiswa asing menggunakan pakaian adat masing-masing. (ist)

Memontum Kota Malang – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyambut 8 mahasiswa baru (maba) asing program beasiswa Darmasiswa RI dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan 15 maba asing program beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), dalam Opening Ceremony Mahasiswa BIPA UMM 2019/2020 di Ruang Sidang Senat UMM, Senin (9/9/2019).

UMM kembali dipercaya oleh Kemendikbud di tahun ke-14 dalam pelaksanaan program Darmasiswa dan Kemenristekdikti di tahun ke-4 dalam pelaksanaan program KNB. Atas kepercayaan tersebut, UMM selalu menerima lebih dari 15 mahasiswa asing dalam beberapa gelombang setiap tahunnya. Kali ini berasal dari Hungaria, Sudan, Amerika, Afrika barat, Azerbaijan, Vietnam, Thailand, Korea Selatan dan Jepang.

Penerimaan mahasiswa asing oleh BIPA dan jajaran Rektorat UMM. (ist)

Penerimaan mahasiswa asing oleh BIPA dan jajaran Rektorat UMM. (ist)

“Sejak tahun 2006, UMM dipercaya Kemendikbud melaksanakan program Darmasiswa. Karena selalu berjalan baik dan sukses, UMM juga mendapatkan amanah Kemenristekdikti melaksanakan program KNB sejak tahun 2015,” jelas Kepala UPT Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMM Dr Arif Budi Wurianto, MSi, usai opening ceremony.

Dengan kepercayaan tersebut, UMM mencatatkan diri sebagai PTS penerima mahasiswa asing terbanyak dari 64 perguruan tinggi di Indonesia. “Alhamdulillah UMM rutin diminati studi bagi warga negara asing. Meski program BIPA disebar ke 64 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, namun UMM selalu mendapat mahasiswa asing terbanyak,” seru Arif, sapaan akrabnya.

Disebutkan Arief, dalam program Darmasiswa, mahasiswa asing akan belajar bahasa dan budaya (non degree) selama satu tahun. Sementara program KNB, mahasiswa akan belajar berdasarkan jenjang pendidikan yang diikuti, seperti S1 atau S2 pada berbagai prodi di UMM.

“Kewajiban mereka selama 2-3 bulan pertama harus belajar bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Sebelumnya mereka juga telah dibekali bahasa Indonesia di negara asalnya,” tambah Arief.

Dr Arif Budi Wurianto, MSi, menjawab pertanyaan awak media. (rhd)

Dr Arif Budi Wurianto, MSi, menjawab pertanyaan awak media. (rhd)

Prof. Dr. Syamsul Arifin menyebut, UMM memiliki visi Internasional. Indikatornya, UMM memiliki beberapa siswa dari luar negeri, dan memiliki hubungan baik dengan beberapa universitas luar negeri, dengan tujuan meningkatkan collaborative research dengan profesor-profesor luar negeri.

“Saya berharap dengan adanya program beasiswa ini, bisa mengembangkan visi Internasional UMM,” lanjut Syamsul.

Pengakuan Risa Orano (21 th), salah satu mahasiswa asing dari Keio Universty Jepang, tertarik belajar bahasa Indonesia lantaran suka dengan pengucapan bahasa Indonesia yang menurutnya unik dan indah. Pun dengan ketakjubannya pada UMM.

“Universitas Muhammadiyah Malang ini sangat besar sekali. Saya takjub sekali, sebab di dalam kampus ada danau di tengahnya,” serunya terbata-bata.

Pada kesempatan ini, para tim pengajar turut memperkenalkan diri dengan menggunakan beberapa pakaian adat yang dimiliki Indonesia. Seperti pakaian adat Jawa, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Lampung dan lainnya, untuk memperkenalkan keberagaman suku dan juga budaya Indonesia. Sementara mahasiswa asing mengenakan pakaian dari negara asalnya. (adn/yan)

 

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler