Connect with us

Kota Malang

Polinema Bedah Pentingnya Industri Bahasa dalam Era Industri 4.0

Diterbitkan

||

Para pemateri menyampaikan pemaparan. (rhd)

Memontum Kota Malang – Kembali, Politeknik Negeri Malang (Polinema) menjadi tuan rumah pelaksanaan Seminar Nasional Industri Bahasa (SNIB) 2019 bertemakan Industri Bahasa dalam Era Industri 4.0, di Gedung Teknik Sipil Polinema lantai 8, Sabtu (31/8/2019) pagi. Acara yang diinisiasi oleh UPT Bahasa Polinema ini diikuti ratusan peserta dari beberapa kampus di berbagai daerah di Indonesia.

Tampil sebagai para pembicara, diantaranya Ex-Netflix Regional Language Manager, Ade Indarta, SS, MBA, memaparkan Audiovisual Traslation and its trend; Penerjemah tingkat internasional, Dr. Dany Susanto, dari Universitas Indonesia, memaparkan Prospek Penjurubahasaan Konferensi di Indonesia; Direktur Language Center UMM, Dr Masduki, MPd, memaparkan TAEP A Made In Indonesia English Test; yang dipandu oleh Kaprodi D-3, Bahasa Inggris Polinema, Dr Sugeng Hariyanto, MPd dan Kaprodi D-4 Bahasa Inggris Polinema, Siti Rohani, PhD.

Peserta menyimak materi yang dipaparkan. (rhd)

Peserta menyimak materi yang dipaparkan. (rhd)

Kepala UPT Bahasa Polinema Lia Agustina, mengatakan dalam menghadapi revolusi 4.0, perusahaan besar memiliki banyak pertimbangan dalam merekrut tenaga kerja. Diantaranya kriteria memiliki keterampilan sosial, peka dan mampu melakukan negosiasi, memiliki jiwa entrepreneurship, menguasai bahasa asing dan lainnya.

“Prioritas industri tentunya calon pekerja yang memiliki banyak kecakapan. Seperti kemampuan menganalisa, menguasai teknologi, mampu berkomunikasi, kemampuan membaca data, menganalisis dan mengakses informasi di dunia digital. Dimana bahasa pengantar dan komunikasinya masing-masing berbeda sesuai kriteria industrunya. Peran penerjemah, ahli bahasa, dan yang berkaitan dengan bahasa berperan penting sebagai pengambilan keputusan,” beber Lia.

Lia berharap dengan terselenggaranya seminar nasional industri bahasa, para pengajar, peneliti dan praktisi saling bertukar ide dalam menghadapi budaya baru. “Kami juga berharap bisa muncul banyak inovasi agar memberi dampak terhadap pengajaran bahasa,” harapnya.

Pemberian cenderamata kepada para pemateri. (rhd)

Pemberian cenderamata kepada para pemateri. (rhd)

Sementara itu, Wakil Direktur II Polinema, Dr Eng Anggit Murdani, ST., MEng. berharap seminar bahasa kali ini mampu memberikan inspirasi kepada para peneliti bahasa. Sekaligus ajang untuk sharing dan bertukar pengetahuan. Sehingga tercipta inovasi pengajaran bahasa yang efektif.

“Ini merupakan momen yang sangat berharga dalam bidang bahasa sebagai satu media. Tujuannya untuk melengkapi apa yang didapat dalam penelitian. Sharing ilmu disini untuk meningkatkan kualitas penelitian kita,” terang Anggit, didampingi Dr Sugeng Hariyanto, MPd.

Menurutnya, pertemuan para akademisi dan peneliti bahasa akan menciptakan atmosfer yang sangat bagus, dimana arahnya bisa saling mensitasi kerja masing-masing.

“Karena SNIB (Seminar Nasional Industri Bahasa) ini merupakan bentuk manifestasi dari berbagai kampus di berbagai daerah. Ada yang dari Manado, Banjarmasin, Medan dan beberapa kampus di Jawa dan Jakarta,” tandas Anggit.

Sementara itu, Dr. Dany Susanto menyampaikan, meski menguasai bahasa, ada kalanya alpa mengingat situasi dan kondisinya.

“Etikanya, dalam suatu konferensi atau seminar, menggunakan bahasa baku yang sesuai EYD. Namun, kadangkala dalam pengucapan di luar teks, masih menggunakan kalimat ambigu. Misal, ketika menyatakan setuju, ada yang nyeletuk “bungkus”. Padahal maksudnya becanda yang menyatakan setuju. Itu yang harus kita ingatkan,” papar pria yang menguasai 8 bahasa internasional ini. (adn/yan)

 

Terpopuler