Connect with us

Kota Malang

C-BOMS, Olah Limbah Biomasa Jadi Bahan Baku Kertas

Diterbitkan

||

Pengolahan limbah biomassa dengan C-BOMS. (ist)

Memontum Kota Malang – Meski digaungkan kampanye paperless, permintaan kertas di Indonesia dan dunia masih cukup tinggi. Tercatat tahun 2016, konsumsi kertas dunia mencapai 394 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada tahun 2020. Sementara bahan baku utama dari produksi pulp kertas adalah kayu hutan. Jika diestimasikan, untuk memproduksi 1 rim kertas dibutuhkan 1 pohon berusia 5 tahun. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan kertas dunia, dibutuhkan 128 juta hektar hutan yang harus ditebang per tahunnya. Dampaknya, 240 ribu hektare hutan Indonesia hilang per tahunnya sepanjang 2013-2016.

Belum lagi proses produksi industri pulp dan kertas masih menggunakan tahapan kimiawi yang kurang ramah lingkungan, membutuhkan waktu dan proses thermal degradasi selulosa yang cukup panjang. Tentunya banyak sekali kerugian, baik dari segi sosial maupun lingkungan.

Tim biomassa bersama Ketua Kafilah MTQ UB. (rhd)

Tim biomassa bersama Ketua Kafilah MTQ UB. (rhd)

Menyadari hal ini, 2 mahasiwa Universitas Brawijaya yakni Sakinah Hilya (Bioteknologi 2017) dan Khodijah Adrebi (Bioteknologi 2017), berinovasi menjadikan limbah biomassa sebagai bahan baku pembuatan pulp dan kertas, yang dinamakan Cellulose from Biomass Waste (C-BOMS), sekaligus menjadi salah satu inovasi yang diusung mengikuti kategori Desain Karya Ilmiah Al-Quran dalam MTQ Mahasiswa Nasional XVI Tahun 2019 di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Minggu-Sabtu (27/7-3/8/2019).

“Berdasarkan data dari Kementrian Pertanian (2014), jumlah limbah biomassa dari sektor pertanian dan perkebunan yang tidak didayagunakan mencapai 20 juta ton dalam setahun. Padahal di dalamnya terkandung selulosa berkadar tinggi. Selulosa inilah yang menjadi suatu indikasi penting dalam produksi pulp dan kertas. Semakin tinggi kadar selulosa dalam pulp, maka akan menghasilkan kertas dengan kualitas yang lebih baik,” jelas Khodijah, didampingi Ketua Tim Kafilah MTQ UB Akhmad Muwafiq Saleh, SSos, MSi.

Melalui inovasi Cellulose from Biomass Waste (C-BOMS) yang menggunakan teknologi Pulsed Electric Field, yaitu treatment fisik yang memberikan kejut listik untuk meningkatkan permeabilitas membrane dengan memperbesar pori-pori pada sel, dan juga treatment Natrium Hidroksida untuk mencapai seluruh bagian sel dan melarutkan lignin maupun zat pengotor lain.

“Nantinya terjadi proses yang dinamakan delignifikasi. Dari proses tesebut, kandungan selulosa akan terpisah dari ikatan lignoselulosa dan lignin akan terlarut. Sehingga, kandungan selulosa akan meningkat, untuk mengurangi risiko deforestasi dan meningkatkan kualitas kertas. Pengujian dilakukan dengan metode Scanning Electron Microscopy dan colorimetri,” jelas Khodijah, diamini Sakinah. (adn/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terpopuler