Pendidikan

POLITEKNIK NEGERI MALANG
lenjag

Ciptakan Sensor QCM Serbaguna, Prof Dr Ing Setyawan Purnomo Sakti M.Eng Jadi Guru Besar

  • Rabu, 16 Januari 2019 | 19:54
  • / 9 Jumadil Uula 1440
Ciptakan Sensor QCM Serbaguna, Prof Dr Ing Setyawan Purnomo Sakti M.Eng Jadi Guru Besar
Prof. Dr. Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng, menjadi Guru Besar UB ke-242

* UB Kukuhkan Dua Guru Besar FMIPA

 
Memontum Kota Malang – Seiring tuntutan dari Kemenristekdikti dalam percepatan, Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan dua Guru Besar baru ke-242 dan 243 dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), di Gedung Widyaloka, Rabu (16/1/2019). Pertama, Prof. Dr. Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng sebagai Guru Besar di Bidang Ilmu Instrumentasi dan Sensor, dan kedua, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S., sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Biologi Reproduksi Molekuler.

Dalam pidatonya, Prof. Dr. Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng menyampaikan kajian berjudul “Quartz Crystal Microbalance dengan Sistem Instrumentasinya untuk Teknologi Sensor Kimia dan Biosensor”. Prof. Setyawan mengatakan, sensor merupakan aspek utama sebagai titik awal pengubahan fakta atau keadaan menjadi suatu bentuk data. Untuk itu, pengembangan sensor dengan berbagai ragamnya merupakan hal yang pokok dalam revolusi industri 4.0.

Dari beragam sensor yang dikembangkan, sensor yang mampu mendeteksi perubahan sifat mekanik pada saat terjadi reaksi kimia maupun ikatan antar molekul yang disebut Quartz Crystal Microbalance (QCM).

“QCM yaitu suatu sensor yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi adanya perubahan massa, perubahan sifat lapisan yang menempel pada permukaannya atau pada perubahan sifat cairan yang bersentuhan dengan permukaan sensor,” jelas pria kelahiran Wonogiri, 25 Agustus 1965.

Menurutnya, sensor QCM menarik untuk dikembangkan karena dapat dimodifikasi dengan bermacam-macam bahan untuk berbagai macam aplikasi seperti untuk kedokteran, industri, pertanian, pangan, maupun keamanan. Karakteristik seperti ini cocok untuk dikembangkan di Indonesia dengan keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pengembangan teknologi.

“Pengembangan sistem instrumentasi berteknologi tinggi dapat dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Hal ini meyakinkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengembangkan suatu teknologi tinggi,” ungkap bapak tiga anak, buah kasih sayangnya bersama Thin Soedarti.

Kelebihan dari Sensor QCM ini, yaitu memiliki sensitivitas yang sangat tinggi dalam mendeteksi jumlah molekul tertentu seperti gas, bau, rasa, sampai pada konsentrasi massa nanogram. Penelitian yang telah dilakukan sejak tahun 2012 ini akan terus menerus dikembangkan karena di Indonesia masih sangat jarang.

“Ke depannya, Sensor QCM dapat dipakai untuk diagnostik kesehatan dengan mendeteksi kadar antibodi dan antigen, mengetahui kualitas bahan makanan dan minuman, melihat tingkat kemasakan buah, dan berbagai keperluan lainnya,” tandas Prof. Dr. Ing. Setyawan Purnomo Sakti, M.Eng. (rhd/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

    Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional