Pendidikan

POLITEKNIK NEGERI MALANG
lenjag

PT Muhammadiyah Temukan Formulasi Studi Islam Bagi Mahasiswa Non Muslim

  • Sabtu, 4 November 2017 | 17:37
  • / 14 Safar 1439
  • Dibaca : 148 kali
PT Muhammadiyah Temukan Formulasi Studi Islam Bagi Mahasiswa Non Muslim
Para pemateri menyampaikan paparannya. (rhd)

Memontum Kota Malang — Meski berlabel Muhammadiyah, kenyataannya Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) juga menjadi tujuan masyarakat non Muslim untuk memperoleh pendidikan, dengan jumlah mahasiswa non Muslim cukup signifikan. Terdapat 6 PTM yang berdiri di wilayah kantong non Muslim, yakni 4 di wilayah Papua dan 2 di Nusa Tenggara Timur, dengan jumlah mahasiswa 70-80 persen non Muslim.

Dengan latar belakang tersebut, PTM perlu menata ulang muatan pendidikan agama, dalam hal ini Al Islam dan Kemuhamadiyahan (AIK), sebagai kajian keilmuan Studi Islam tang dikemas secara obyektif, terbuka, dan tanpa indoktrinasi. Sehingga mahasiswa non Muslim diperlakukan sebagai outsider yang ingin belajar mengenal dan mendalami ilmu-ilmu tentang Islam.

Dihadiri oleh beberapa pakar pendidikan dan pengurus PTM yang berada di kantong non Muslim, mencoba menemukan formulasi yang tepat dengan menggelar Workshop Panduan Al-Islam dan Kemuhammadiyaan (AIK) untuk Mahasiswa Non-Muslim di Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang dilaksanakan di UMM Inn, selama 2 hari, Jumat-Sabtu (3-4/11/2017).

“Mereka diajari AIK, tetapi bentuk metode pendekatannya berbeda. Dari workshop ini akan dihasilkan kurikulum dan pedoman pelaksanaannya. Kurikulum yang diberlakukan bagi mahasiswa non Muslim, akan dilaksanakan pada tahun akademik berikutnya. Ada tim yang merumuskan dari hasil workshop ini.

Jadi mereka akan diperkenalkan Islam secara universal menurut Muhammadiyah, yang dapat diterima dan tercerahkan dengan toleransi. Meski bangunan peribadatan bagi non Muslim di lingkungan PTM tidak ada, namun kami bekerjasama dengan tempat peribadatan sekitar sebagai sarana non Muslim,” terang Dr M Nur Hakim, Asisten Rektor bidang AIK UMM.

“Mahasiswa non Muslim di PTM mencapai ribuan. Dibutuhkan kurikulum bagi mereka, sehingga ada perlakuan yang seimbang. Kalau dulu ada tugas lain, nantinya ada hal perkuliahan yang diperkenalkan bagaimana Islam ala Muhammadiyah, dan bagaimana Islam yang toleransi. Panduan tersebut akan kita rumuskan bersama agar mereka merasa diperlakukan sama. Kami tidak meng-Islam-kan mereka, tetapi bagaimana mereka mengenal Islam tanpa harus merasa terdoktrin,” papar Budi Ashari MA, tim Asistensi Litbang Dikti PP Muhammadiyah.

Sementara itu, Dosen AIK STKIP Muhammadiyah Sorong Ribut Purwo Juwono, MPdI, mengatakan selama ini dalam AIK 1 dan AIK 2, hanya diperuntukkan bagi mahasiswa muslim, namun AIK 3 dan AIK 4 diperuntukkan bagi semua mahasiswa, baik muslim dan non muslim. Diharapkan dari rumusan yang ditemukan, akan membawa perubahan yang lebih baik dalam diri mahasiswa.

“Dari rumusan yang didapat nantinya, diharapkan mahasiswa non Muslim dapat mengetahui dan memahami nilai-nilai Islam yang bersifat universal, sehingga tumbuh kesepahaman bahwa kebenaran yang ada dalam ajaran Islam ditemukan pula dalam ajaran agama yang mereka anut, dan sebaliknya. Diharapkan semua mahasiswa dapat memahami doktrin-doktrin keagamaan tidak dapat dan tidak perlu dikompromikan, sehingga tumbuh sikap saling menghormati, menghargai, dan saling membebaskan dalam berkeyakinan dan beragama,” jelas Ribut. (rhd/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional