Pendidikan

Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Malang
lenjag

Fury Wars, Olah Limbah Tahu Jadi Bahan Kerajinan

  • Senin, 23 Juli 2018 | 10:08
  • / 10 Djulqa'dah 1439
Fury Wars, Olah Limbah Tahu Jadi Bahan Kerajinan
Aplikasi teknologi Fury Wars karya mahasiswa FTP UB

Memontum Kota Malang – Tahu merupakan makanan favorit masyarakat Indonesia. Berdasarkan data SUSENAS, menunjukkan rata-rata konsumsi tahu Indonesia tahun 2002-2015 sebesar 7,26kg/kapita /tahun. Besarnya konsumsi tahu ini, mendorong menjamurnya industri produsen tahu. Namun, sayangnya hal ini tidak diimbangi dengan lengkapnya sistem pengolahan limbah tahu yang baik.

Terdapat dua jenis limbah produksi tahu, yaitu limbah tahu cair dan limbah tahu padat, yang sering digunakan sebagai pakan ternak. Umumnya, produsen tahu masih membuang limbah cairnya ke sungai, karena belum memiliki teknologi pengolahan limbah yang dibutuhkan. Padahal limbah cair tahu ini sangat berbahaya jika dibuang langsung ke badan air, karena tingginya kandungan BOD dan COD serta asamnya pH dapat menimbulkan bau, mengurangi kadar oksigen dalam air dan meningkatkan kekeruhan air.

Tim Fury Wars FTP UB

Tim Fury Wars FTP UB

Inilah yang melatarbelakangi kelima mahasiswa Teknik Lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB), yaitu Listy Laura (TL 2016), Robert Antonius (TL 2016), Dewi Martha Ayu (TL 2017), Xavier Adli (TL 2017), Raihan (TL2017), dibawah bimbingan Angga Dhetta Shirajuddin, SSi.MSi. Mereka merancang FURY WARS (Tofu Industry Wastewater Recycling Systems).

Fury Wars merupakan teknologi tepat guna pada pengolahan limbah cair tahu yang masih mengandung asam cuka dan protein yang tinggi, sehingga nantinya menjadi limbah cair yang aman untuk dibuang ke parit, karena sudah tidak lagi menghasilkan bau yang tak sedap di sekitar lokasi industri tahu.

“Alat ini sebenarnya sederhana, hanya berupa balok kaca bertingkat dengan pengolahan dan penerapan prinsip gravitasi. Kami menambahkan bakteri pada balok pertama dan kedua untuk menyehatkan limbah cair tersebut. Selain itu, ada pula oksigen yang kami tambahkan di balok kedua untuk lebih menyehatkan dan menyeimbangkan kadar pH limbah. Pada balok terakhir, kami menggunakan filter, sehingga limbah cair menjadi lebih ramah lingkungan sebelum dibuang ke sungai,” papar Listy Laura, ketua tim.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

    Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional