Pendidikan

Politeknik Negeri Malang
STIE PERBANAS
lenjag

FDPNI Hasilkan Revitalisasi Politeknik

  • Selasa, 13 Maret 2018 | 20:36
  • / 25 Jumadil Akhir 1439
FDPNI Hasilkan Revitalisasi Politeknik
Menristekdikti Prof Dr H Mohammad Nasir, Ak, MSi, PhD (kedua dari kiri), menjawab dan menentukan kebijakan. (rhd)

Memontum Kota Batu — Kembali Politeknik Negeri Malang (Polinema) mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah dalam gelaran “Rapat koordinasi Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI)”, di Hotel Singhasari, Batu, Senin (12/3/2018). Sekitar 38 peserta dari 40 undangan hadir dalam rapat Forum Direktur tersebut. Mereka membahas landasan pemikiran dan masukan pelaksanaan MEMO, Magister Terapan, Doktor Terapan Politeknik, dan Program Profesi Insinyur, dalam Rapat koordinasi Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI) bersama Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof Dr H Mohammad Nasir, Ak, MSi, PhD.

Hadir dalam kesempatan tersebut, diantaranya Dirjen SDID Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD, Dirjen Kelembagaan Dr. Ir. Pradono Suwignyo, MEng, Sc, dan Ketua FDPNI Dr. Ir. Rachmad Imbang Tritjahyono, MT. “Tujuan diadakan acara ini untuk Revitalisasi Politeknik di Indonesia yang diadakan FDPNI. Ada beberapa temuan dari FDPNI, sehingga muncul beberapa kebijakan Kemenristekdikti sebagai solutif,” jelas Menristekdikti) Prof Dr H Mohammad Nasir, Ak, MSi, PhD, kepada awak media.

Menristekdikti dan jajarannya bersama para peserta Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI)

Menristekdikti dan jajarannya bersama para peserta Forum Direktur Politeknik Negeri se-Indonesia (FDPNI)

Beberapa temuan tersebut, diantaranya sistem multi entry multi exit pada D3 dan D4, yaitu kesempatan bekerja atau KKNI dan kesempatan kuliah lagi. Sehingga tidak ada istilah DO. Selain itu, diadakan Polytechnic Collaboration antara Politeknik se-Indonesia dengan Taiwan University. Dimana ada kesempatan bagi 6.000 mahasiswa untuk menempuh kuliah di Taiwan, dengan metode 2 tahun kuliah di Indonesia dan 2 tahun kuliah di Taiwan. “Selain masuk di kampus Taiwan, mahasiswa juga masuk di industri. Jika tahun pertama berhasil terpenuhi, Taiwan akan menambah jumlah kuotanya,” jelas Menristekdikti.

Instrumen yang diterapkan oleh BAN PT yang seharusnya diperuntukkan bagi Universitas, namun diterapkan pada Politeknik. Padahal ada beberapa aturan dan kebijakan yang berbeda. “Politeknik bukan hanya akademik saja, tapi ada vokasional dengan bobot 70 persen. Jika digenjot akademik, tak akan nyambung. Harus segera diubah nanti bersama Dirjen Pembelajaran,” ungkap pria yang menjabat Menristekdikti sejak 27 Oktober 2014 ini.

Direktur Polinema, Drs. Awan Setyawan, MM (kanan), turut hadir. (rhd)

Direktur Polinema, Drs. Awan Setyawan, MM (kanan), turut hadir. (rhd)

Alumnus S3 Universitas Sains Malaysia ini menambahkan, kuliah di Politeknik harus siap kerja, bukan siap training. Sehingga jika bobot materi akademik diperbanyak, maka tidak sesuai tujuan awal. Sementara sebagian besar dosen yang ada harus praktisi.

Dalam kesempatan tersebut, Kemenristekdikti menyampaikan kebijakan di bidang Kelembagaan IPTEK dan DIKTI, diantaranya membebaskan nomenklatur prodi untuk mendukung pengembangan kompetensi industry 4.0; membangun teaching factory industry 4.0; melaksanakan perkuliahan Online dan Distance Learning; mengundang PTLN untuk membuka prodi-prodi yang mendukung Industry 4.0. (rhd/yan)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

    Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional