Pendidikan

iklan Penerimaan Mahasiswa baru universitas wisnuwardhana
lenjag

Prof Dr Ir Mimit Primyastanto MP Dikukuhkan jadi Guru Besar

  • Rabu, 21 Februari 2018 | 21:29
  • / 5 Jumadil Akhir 1439
  • Dibaca : 161 kali
Prof Dr Ir Mimit Primyastanto MP Dikukuhkan jadi Guru Besar
Prof Dr Ir Mimit Primyastanto, MP, saat dikukuhkan sebagai Guru Besar FPIK ke-13. (rizky pratama)

Lontarkan Solusi Ketahanan Pangan Perikanan Berbasis Kearifan Lokal

 
Memontum Kota Malang — Produk perikanan dan kelautan merupakan potensi pendapatan masyarakat pesisir, dimana saat ini sedang mengalami tekanan dari berbagai aktivitas manusia, seperti over fishing (penangkapan ikan berlebihan) oleh kapal asing berteknologi tinggi. Sementara nelayan domestik kalah jumlah tangkapan, hingga mengakibatkan kemiskinan ekonomi dan berkurangnya ketahanan pangan dalam negeri.

Hal ini menjadi pemikiran yang menghasilkan solusi, dalam karya penelitian Prof Dr Ir Mimit Primyastanto, MP, sebagai Guru Besar ke-13 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB), yang dikukuhkan di Gedung Widyaloka UB Malang, Rabu (21/2/2018), yang mengangkat judul “Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berbasis Local Wisdom dan Zonasi”.

Prof Dr Ir Mimit Primyastanto, MP, menyampaikan pidato pengukuhan. (rizky pratama)

Prof Dr Ir Mimit Primyastanto, MP, menyampaikan pidato pengukuhan. (rizky pratama)

Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi Perikanan menjelaskan, kearifan lokal di pesisir Selat Madura dan ketaatan terhadap tradisi hukum adat yang berlaku serta berbagai ritual yang berhubungan dengan pengelolaan SDA pesisir dan laut, sebenarnya mampu menjadikan solusi. Terlebih jika hal tersebut dipaparkan dalam bentuk korelasi penelitian, untuk disampaikan para tetuah, ulama, dan tokoh masyarakat kepada masyarakatnya.

Aturan dilarang menangkap di daerah tertentu, secara kearifan lokal ada aturannya pula, seperti andun dan nyabis. Yakni pola perpindahan tempat penangkapan ke tempat lain berdasarkan kesepakatan dan petunjuk atau doa restu ulama. “Inti arahnya jangan merusak SDA. Melalui penelitian, sistemnya berubah dari one day fishing menjadi one week fishing. Dengan merubah mindsetnya, baik terkait cuaca, efisiensi waktu dan tenaga, dan lainnya. Misal seminggu menggunakan waktu 3 hari, hasil tangkapan dan uang yang didapat pasti maksimal,” jelas Mimit, pria asli Probolinggo yang meneliti di tanah kelahirannya.

Kearifan lokal lain seperti sedekah laut, selain sebagai momen pariwisata, juga sebagai alternatif mata pencaharian di bidang lain, seperti kuliner, penginapan, cinderamata, guide Wisata, dan lainnya. Secara tidak langsung tingkat over fishing bisa dicegah.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional