Pendidikan

pariwisata kabupaten jember
space ads post kiri
Topik Terhangat

BPPM FTUB Ciptakan Digester Biogas, Olah Limbah Ternak Jadi Produk Bernilai Ekonomis

  • Rabu, 10 Januari 2018 | 16:04
  • / 22 Rabiul Akhir 1439
  • Dibaca : 93 kali
BPPM FTUB Ciptakan Digester Biogas, Olah Limbah Ternak Jadi Produk Bernilai Ekonomis
Dr Eng. Denny Widhiyanuriyawan ST, MT, (kiri) bersama tim BPPM FTUB meninjau mixer Digester Biogas. (ist)

Memontum Kota Malang — Dalam perkembangan teknologi, selain kotoran ternak diolah menjadi pupuk kandang, juga bisa dijadikan produk biogas, pupuk cair dan padat, campuran pelet, dan media pengembangbiakan cacing merah, sehingga memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat, khususnya peternak.

Biogas dihasilkan dari aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan-bahan organik, termasuk diantaranya kotoran hewan ternak. Kotoran ternak, dalam hal ini sapi, mengandung 40-60 persen CH4 (metana) dan 30-60 persen CO2 (karbon dioksida). Melalui proses digester biogas, kandungan metana pada kotoran ternak bisa dipergunakan sebagai bahan bakar. Hal ini dilakukan Badan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BPPM) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) melalui Ketua BPPM, Dr Eng. Denny Widhiyanuriyawan ST, MT, dalam membina instalasi mixer digester biogas, di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang.

Tim BPPM FTUB bersama masyarakat peternak. (ist)

Tim BPPM FTUB bersama masyarakat peternak. (ist)

Denny mengungkapkan, BPPM FTUB membuat digester biogas dengan tipe fixed dome, yang terdiri dari 3 komponen utama, yaitu Inlet (mixer), Dome (kubah digester), dan Outlet (tempat slurry). Prinsip kerjanya, mixer berfungsi sebagai tempat untuk mencampur kotoran ternak dan air pada perbandingan tertentu. Selain itu, mixer juga berperan untuk memisahkan ramen (bekas rumput atau jerami) dari kotoran sapi, agar ramen tidak menyumbat saluran masuk yang bisa menyebabkan sedimentasi ramen pada dome. “Antara outlet dan dome diberi manhole, yang berfungsi sebagai saluran pengeluaran slurry dan jalan masuk ketika menguras dome, jika terjadi masalah pada digester,” jelas Denny.

Dilanjutkannya, jika dome sudah terisi penuh oleh kotoran ternak dan air, serta saluran gas di atas dome ditutup, maka aktivitas bakteri anaerob (bakteri metanogen) akan menghasilkan biogas di dalam dome. Tekanan biogas ini akan mendorong slurry pada sisi outlet. Jika biogas tersebut dialirkan, maka slurry pada outlet berfungsi memberikan gaya tekanan, sehingga gas akan terdorong. “Jadi prinsip kerja digester fixed dome itu sesuai dengan prinsip Hukum Pascal, terjadi keseimbangan tekanan antara digester dengan sisi outlet,” papar pria kelahiran Ponorogo, 13 Januari 1975 ini.

Selain biogas, slurry padat bisa diproses untuk campuran pelet dan media pengembangbiakan cacing merah. Pun untuk memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga, biogas bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar ekonomi produktif, seperti pembuatan kripik dan ekonomi produktif lainnya. “Sebab untuk 1 digester biogas yang terisi penuh, mampu menghasilkan biogas sekitar 50 hari. Dan biogas ini bisa untuk memasak selama 5-6 jam sehari,” terangnya.

Denny menambahkan, selain kotoran sapi dan ruminansia lainnya, bahan baku bisa diambilkan dari kotoran unggas, seperti instalasi biogas yang dibangun di Kecamatan Sumberpucung, Malang. Berawal dari polusi udara yang ditimbulkan limbah kotoran dari peternak ayam di dekat Bendungan Karangkates itu. “Peternakan tersebut merupakan salah satu mitra binaan Universitas Brawijaya. Akhirnya kita carikan solusi dengan membuat instalasi biogas. Selain masalah bau yang mengganggu bisa teratasi, biogasnya bermanfaat buat kebutuhan rumah tangga,” jelas Doktor bidang Energy dan Remote Sensing ini.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Foto Terbaru

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional